Tag Archive: kemenangan



Hmm prolog yang tidak disangka menjadi postingan, serta menambah satu kategori baru, hehehe..

17 hari masa jelajah blog..Terhitung sejak update kembali dengan diawali 3 postingan, yang diantaranya :

1. Win-win true, atau “kemenangan-kemenangan sejati” yang merupakan suatu konsep yang sederhana atau juga bisa jadi merupakan sarana refleksi diri, yang pada esensinya terdapat hal-hal mengenai pemantapan diri akan hakikat sebuah usaha serta komitmen diri..Selanjutnya di ikuti dengan postingan yang kedua, Baca lebih lanjut

Iklan

Win-Win True..


“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah Yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu..’ (Ar Rum :30)

Hai diri..Fitrah manusia adalah mengabdi kepada Allah dan beriman kepadaNya. Karena manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, secara alamiah harus meminta pertolonganNya. Dalam hal ini berdoapun belum cukup kecuali dibarengi dengan “usaha” yang sungguh-sungguh.

Diri, dan mengingat-ngingat, mencoba membingungkan diri, dan sampai teringat akan sebuah pembelajaran tentang hakikat sebuah “usaha”.. Baca lebih lanjut


Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Bani Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju ke depan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, “Oh, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu”. Baca lebih lanjut