PADA tahun 1932 Albert Einstein menulis surat kepada Sigmund Freud, menanyakan pendapatnya, ”apa yang dapat dilakukan manusia agar terhindar dari kutukan peperangan”. Pertanyaan itu barangkali karena dunia pada saat itu masih dihantui oleh akibat Perang Dunia I yang mengejutkan manusia Eropa, justru akibat kerusakan dan penderitaan yang harus ditanggung oleh mereka.

Sebagai ahli ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat esainya yang terkenal, ”Mengapa Perang?” Dia menguraikan tentang adanya dua insting pokok manusia, yakni insting cinta dan insting benci. Insting cinta itu baik karena manusia peduli dan mencintai sesamanya. Ini mengandaikan adanya kepedulian terhadap hidup orang lain, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Tetapi insting ini juga sekaligus membawa insting kebencian kalau sikap cinta kasihnya terhadap orang lain disertai dengan niat memiliki yang dicintainya itu.

Dengan itikad memiliki maka terjadilah penguasaan, diktator, penjajahan dari si pencinta kepada yang dicintai. Dan kalau perasaan tidak bebas dari yang dicintai ini memberontak, maka terjadi konflik. Dan konflik ini selalu diakhiri dengan ”adu kekuatan”. Siapa yang kalah akan menjadi ”budak”, dan yang menang menjadi ”majikan”.

Maka mulailah penderitaan manusia bukan atas nama “rasa cinta” sebagaimana orang-orang yang sakit/ kecewa karena cinta tapi atas nama ”rasa ingin memiliki”. Kerap dijumpai hal seperti ini disekitar kita dan mungkin itu ada di dlm diri kita. Mungkin prolog di atas tadi bisa sebagai referensi pemikiran kita/ cara pandang kita akan cinta. Dari sini juga muncul pertanyaan yang mungkin jarang sekali kita bertanya sama diri kita atau mungkin gk pernah sama sekali. Pertanyaan demi pertanyaan muncul, tp dari sekian banyak pertanyaan itu ada pertanyaan yang bagi aku mungkin itu pertanyaan yang paling peka.

kurang lebih pertanyaannya seperti ini – “sebenarnya ini rasa cinta apa rasa ingin memiliki?, sebenarnya apa yang kita cinta dari orang yang kita cintai?, apakah karakter dia?, ataukah karakter kita yang ada pada dia?, apakah gk terlalu ego mencintai diri kita yang kita bentuk pada diri orang lain?, apakah kita tidak membatasi ekspresinya?, bagaimana kalau nanti karakter yang kita bentuk pada dirinya tiba-tiba hilang?, masih bisakah kita ntuk bertahan atas nama cinta?

So! cinta bukan rasa ingin memiliki karena apa-apa yang kita cintai tidak semuanya bisa kita miliki, dan begitupun apa-apa yang kita miliki tidak semuanya bisa kita cintai, cintailah yang halal bagimu, cintailah apa yang kamu cintai sesuai dengan kadar cinta itu karena cinta adalah fitrah manusia..

Nb :
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk melangkah, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita?, Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk melengkapinya. Baca lebih lanjut

Iklan