“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah Yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu..’ (Ar Rum :30)

Hai diri..Fitrah manusia adalah mengabdi kepada Allah dan beriman kepadaNya. Karena manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, secara alamiah harus meminta pertolonganNya. Dalam hal ini berdoapun belum cukup kecuali dibarengi dengan “usaha” yang sungguh-sungguh.

Diri, dan mengingat-ngingat, mencoba membingungkan diri, dan sampai teringat akan sebuah pembelajaran tentang hakikat sebuah “usaha”..Kurang lebih seperti ini –> ehm ehm *atur rambut dulu ah*..seseorang yang lagi dahaga klo yang dia bisa lakukan hanya melukiskan gambar “air” tentu hal ini tidak akan menghilangkan dahaganya, meskipun air itu digambarkan dengan ukuran yang besar, sama seperti halnya klo yang dia bisa lakukan hanya mengucapkan kata  air air air dan airrrrrrrrrrrr,  yang tentunya juga hal ini tidak akan menghilangkan dahaganya meskipun kata air itu dikatakan dengan nada E *hehehe*..tapi coba dengan “usaha” yang sungguh-sungguh meskipun sedikit saja (begerakkkk!! ambil gelas, dan tuangkan air kedalamnya kemudian minum, insyaAllah ini lebih baik ntuk dahaga tersebut.

Mengutip dari filosofi yang sederhana diatas, ternyata hakikatnya jauh lebih besar, luas dan dalam akan maknanya..yang tidak hanya bicara konteks air dalam gelas, tapi air dalam konteks bangsa dan negara ini, dimana bangsa dan negara ini memiliki wilayah perairan yang lebih luas dari daratan, yang hal ini patut disyukuri, dimanfaatkan sebaik mungkin ntuk kepentingan umat, dijaga, dan dipelihara..

Tapi fakta berbicara dan nampak jelas terlihat manakala masyarakat yang didalamnya terdiri dari individu-individu mengingkari fitrah yang telah diberikan. Salah satu produk terpenting dari pikiran yang tidak religius dalam perjalanan hidup ini adalah penghapusan konsep akhlak ditiap frase kehidupan, dengan melanggar batas-batas religius dan moral, serta semata-mata melayani pemenuhan nafsu, mengejar kesenangan (hedonistik).

Dalam sistem semacam inilah segala jenis kemunduran yang pada akhirnya berkembanglah masyarakat yang tidak memiliki mahabbah kepada sesama, bersifat egoistik, keras kepala, dangkal, dan tidak bijaksana. Dalam masyarakat seperti ini hubungan yang terjalin hanya bergantung pada kepentingan-kepentingan yang sifatnya timbal-balik, yang sulit terdapat adanya keikhlasan disana. Tatanan masyarakat semacam ini secara fundamental telah rusak, menyimpang, dan primitif yang kian lama kian jauh dari akal dan hati nurani.

Hai diri..Apakah ini yang disebut kemenangan bersama?, kemenangan hakiki?, ataukah yang menjadi tujuan dalam hidup ini ialah kemenangan-kemenangan yang sifatnya individual.??, atau inikah bangsa yang didalamnya dengan orang-orang yang mudah tertipu berbicara kemakmuran, tapi malas dan tidak cakap dalam bertindak, tidak memiliki attitude yang baik, serta integritas yang tinggi dalam hal komitmen.

Hai diri..Banyak dan tingginya bangunan bukanlah suatu ukuran kemajuan, banyaknya regulasi dan lembaga hukum pun bukanlah suatu ukuran kemajuan dalam konstruksi hukum, begitupun halnya ukuran suatu kemajuan ekonomi pembangunan yang ukurannya tidak hanya diukur berdasarkan tingkat kesejahteraan pada level-level tertentu saja, sementara di level-level tertentu lainnya mengalami “social gap”.

Hai diri..Perlu diketahui bahwasannya arti sebuah kemakmuran bukanlah semata-mata bersandar pada banyak dan hebatnya konsep demi konsep dalam ruangan-ruangan seminar ataupun sistem-sistem yang hanya bersifat semu dan mudah terombang-ambing oleh kekusaan yang hanya bersifat sementara?..hai diri, ini semua terletak pada hakikat usaha, yang didalamnya terdapat pengorbanan, mahabah, mujahadah yang sungguh-sungguh, attitude yang baik dan istiqomah, komitmen dan integritas yang tinggi, serta tanggap dan adaptif..yang kesemua hal itu ada pada manusia itu sendiri yang pada dasarnya telah ditopang oleh dasar keimanan dan tauhid yang benar. Manusia-manusia inilah yang bisa memberikan perubahan baik terhadap dirinya sendiri maupun pada tatanan masyarakat luas, bangsa dan negara.

Hai diri, renungkanlah!…“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang Zalim”.  (Qs. At Taubah : 109)

Hai diri..Hiduplah dengan tujuan atas dasar Allah menghidupkan kamu, dengan cara mensyukuri segala nikmatNya dan teruslah berkarya ntuk yang lebih bermanfaat..

Share/Bookmark

Iklan