Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik. Karena, inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup.

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. Al Kahfi 18: 45-46)

 

“Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan”. ( Harun Yahya)..

Ya kira-kira begitulah kata beliau, selanjutnya terserah anda, hehehe..

Bicara hidup!, tergantung bagaimana kita memaknai hidup itu seperti apa, bagaimana kita mewarnainya, bagaimana cara kita menjalaninya, dan setinggi-tingginya kita tahu dan kita paham tujuan hidup itu untuk apa sih?, maka dengan begitu kita akan lebih mudah menilai berbagai fenomena dalam hidup ini..

Pemb. 1

Katanya sih (kata siapa sih ?), apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik (enaknya tanam apa ni?), ya terserah mau tanam apa, yang pasti anda yang lebih tahu konsekuensi dari apa yang anda tanam (kira-kira seperti itulah, hehe).

2+2 = 4 (hukum autosugesti  dan the law of attraction). Artinya jika diri berpikir begini, ya kemungkinan besar begini. Jika diri ingin begitu, tapi berpikir tak akan bisa begitu, hmm hampir pasti tak akan bisa begitu juga, bray..

“Anda yang tidak mau mengambil risiko tentang apa-apa, berarti anda tidak punya apa-apa, bukan apa-apa, dan tidak pernah menjadi siapa-siapa”.

Pemb. 2

Dalam konteks ini saya mencoba meng’combine 2 hal yang berbeda (tapi masih satu keluarga koq, jadi nyante aja ya, heehe).

Yaitu : 1. Keyakinan 2. Prasangka baik, su’dzon atau positif thinking (kembar niyee, hehehe).

Pertama, keyakinan itu lebih merupakan titik akumulasi dari pada kebahagiaan. keyakinan yang dimaksud disini bukan yakin terhadap materi yang bisa membawa kebahagiaan atau yakin ekstrinsik yang hanya merupakan penyakit kejiwaan karena ketiadaan kebahagiaan (terlalu sempit pemahaman seperti ini, wew biasa aja boy, serius amet sih, hehe), tapi yakin yang dimaksud ialah yakin yang merupakan sesuatu hal yang dapat merubah sesuatu hal menjadi hal yang ujud, yakin yang juga merupakan elemen yang dapat menjadikan getaran rasa pikir menjadi ujud spiritual (ujud di dalam keyakinan itu sendiri, lebih ditekankan pada penggunaan logika fitrah), dan setinggi-tingginya yakin kepada eksistensi yang menciptakan materi? (masih belajar koq ntuk hal yang ini, hehe).

Kedua, prasangka baik bin su’dzon bin positif thinking.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. 49:12)

“Aku mengikuti prasangka hamba-Ku” (Hadist Qudsi).

Dengan prasangka baik terhadap sesuatu hal kita dapat mempengaruhi cara berfikir kita, serta bagaimana cara kita bersikap dalam menjalani hidup ini. Dengan prasangka baik yang merupakan titik akumulasi dari pada kedamaian akan tercipta kedamaian batin serta kedamain jiwa yang akan membebaskan jiwa dari berbagai tekanan yang hanya membuat lelah fisik diri ini..

Share/Bookmark

Iklan